aL Fatih 703

Generasi berprestasi, Cendekiawan masa kini

Laman

Pribadi Muslim Berprestasi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!
Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.
Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah …” (QS. Al Ahzab [33] : 21)
Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini?
Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.
Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita,yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam.
Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.
Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.
Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.
Misalnya saja shalat, “Qadaflahal mu‘minuun. Alladziina hum fii shalaatihim”
(QS. Al Mu‘minuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, “Fawailullilmushalliin. Alladziina hum‘an shalatihim saahuun” (QS. Al Maa‘uun [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!
Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.
Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermamfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.
Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.
Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.
Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!
Ingat, wahai hamba-hamba Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma‘ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah …!” (QS. Ali Imran [3] : 110).

Agar Umat Islam Berprestasi & Berjaya (Lagi)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Umat Islam telah dianjurkan untuk saling berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan “fastabiqul khairat” (Q.S. Al Baqoroh: 148). Allah swt. juga menyuruh umat Islam sebagaimana dalam Al Qur’an agar menjadi “Khairu ummah” (Q.S. Ali Imron: 110). Dan sebagaimana tujuan Allah menguji manusia supaya terbukti siapakah yang paling baik amalnya (Q.S. Al-Mulk: 2). Upaya apa saja yang harus dilakukan umat Islam agar mampu menjawab semua anjuran dan perintah Allah tersebut? Berikut pendapat dan gagasan dari Ibu Wirianingsih, M.Si., seorang tokoh perempuan nasional yang ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an dan terpotret dalam buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an.
Apakah urgensi prestasi bagi umat Islam menurut Ibu?
Prestasi adalah hasil capaian atas usaha yang telah dilakukan seseorang. Prestasi menggambarkan dinamika perjalanan hidup seseorang atau suatu bangsa. Bagi Umat Islam, prestasi adalah suatu keniscayaan. Tanpa prestasi, umat Islam tidak akan pernah mendapatkan ‘izzah’nya di mata umat agama lain. Umat Islam pernah mencapai prestasi gemilang pada masa Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah, dimana ketika itu Baghdad menjadi pusat kebudayaan Islam dan peradaban dunia. Ummat Islam pernah mencapai prestasi gemilang di bidang ilmu pengetahuan pada masa Cordova dan Al-Hambra di Spanyol di bawah kekuasaan Islam. Ketika itu Eropa (barat) berada pada masa kegelapan.
Bagaimana prestasi umat Islam sekarang?
Setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Ustamani, Umat Islam kehilangan segalanya (barangkali hanya tinggal aqidah). Hingga saat ini Umat Islam hampir tidak ada prestasi ‘luar biasa’ yang dapat dibanggakan. Pusat Ilmu pengetahuan dan peradaban sekarang dikendalikan Barat. Ada beberapa ilmuwan muslim yang berprestasi  di bidang Science dan teknologi, tapi tetap saja mereka’ tenggelam’ dalam mainstream informasi yang sekarang dikuasai Barat. Yang terjadi hingga saat ini adalah westernisasi di dunia Islam. Contoh kasus di Indonesia, sebagai ummat Islam terbanyak di dunia berapa jumlah muslimah yang menggunakan jilbab dibandingkan populasi muslimah Indonesia? Kita lebih banyak menyaksikan perempuan muslimah menggunakan pakaian ‘terbuka’. Di toko2 yang menjual busana, kita akan lebih banyak menemukan pakaian gaya barat, kaos ketat lengan pendek dan celana panjang ketat. Sedikit kita menemukan toko atau mall yang menjual busana muslimah. Kaum perempuan kita lebih senang menggunakan baju itu ketimbang pakai kerudung. Padahal kerudung atau jilbab adalah identitas,kita  langsung mengenal pemakainya sebagai muslimah.
Bahkan kaum muslimin di Indonesia banyak yang takut dengan syariat Islam. Seolah syariat Islam itu ‘monster’ yang menakutkan. Syariat itu kan artinya jalan. Syariat Islam berarti jalan islam.Ketika kita mengaku beragama Islam sepatutnya kita bangga menjadi seorang muslim. Yang terjadi adalah orang Islam sendiri malu menunjukkan identitas keislamannya. Takut dibilang alim, fundamentalis,atau fanatik .Stigma yang disosialisasikan oleh Barat. Sampai sekarang DPR RI sulit mengeluarkan UU Halal yang menjamin ketenangan umat Islam dalam soal makanan dan minuman, karena di DPR sendiri banyak yang menentang, takut negara ini disebut negara Islam. Padahal masyarakat banyak mengkonsumsi   makanan yang tidak jelas kehalalan atau keharamannya karena tidak ada jaminan untuk itu. Ironi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.
Belakangan sudah ada pergerakan dari kalangan umat Islam untuk bangkit. Pendapat Ibu?
Memang ada gejala kebangkitan di dunia Islam sejak dua dasawarsa belakangan ini, namun persoalan di internal umat Islam sendiri masih kritis. Negara-negara Islam yang tergabung dalam OIC (konferensi negara-negara Islam), tidak dapat berbuat banyak menyaksikan saudara-saudara sesama muslim yang mengalami penindasan dan kezaliman di negara di mana mereka adalah minoritas. Meski demikian, saya tetap melihat ada optimisme di dunia Islam. Masih ada kalangan muslim yang menjadi penggerak perubahan dan mereka tidak pernah berhenti untuk melakukan perubahan dan ingin merebut kembali kejayaan Umat Islam.
Fenomena ‘Arab Spring’ (musim semi di negara-negara Arab/Timteng) adalah menunjukkan gejala ada sesuatu yang penting sedang terjadi dalam dunia Islam. Negara Turki perlahan tapi pasti terjadi perubahan. Sejak runtuhnya Kekhalifahan Islam Turki Usmani kemudian menjadi negara sekuler selama puluhan tahun, kini mulai menampakkan substansi keislamannya. Dalam dunia Ilmu Pengetahuan , ada beberapa ilmuwan muslim yang meraih Nobel Fisika. Saya kira, mungkin lebih banyak lagi cendekiawan muslim/muslimah kelas dunia yang pintar-pintar dan cerdas. Hanya karena faktor kesempatan dan media yang belum berpihak pada mereka.Perempuan muslimah juga sudah mulai banyak yang berjilbab di beberapa negara sekuler atau di mana muslim adalah kelompok minoritas. Masjid-masjid di perkantoran mulai penuh dan semarak dengan kegiatan keislaman/pembinaan rohani.
Hal yang menguatkan optimisme ini adalah semakin bertambah para penghafal Al-Qur’an khususnya dari kalangan usia anak-anak di berbagai belahan dunia. Selama masih banyak yang menghafal Al-Qur’an dan menghafal hadist Nabi saw. insyaAllah akan semakin banyak yang akan menjaga agama dan ummat ini dari kehancuran. Saya kira, ini merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Kesadaran ummat Islam khususnya keluarga muslim untuk mengembalikan keluarganya pada Al-Qur’an itu penting untuk diupayakan. Tentu kita semua berharap bukan sekedar menghafal, yang jauh lebih penting adalah mengamalkan dalam bentuk perilaku sehari-hari di semua sektor kehidupan, meski tantangan dan kendalanya tidak ringan.
Upaya apa yang perlu dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Islam, kembali menjadi ummat yang berprestasi?
Agar Umat Islam kembali berjaya , saya kira semua sepakat, pertama,kita harus kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jadikan ummat Islam bangga dengan agamanya sendiri dalam praktek perilaku sehari-hari yang mencerminkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Karena ayat-ayat suci itu yang menggerakkan semua potensi pribadi dan ummat agar memberikan yang terbaik. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik dan melakukan perbaikan. Ruh ini yang hampir hilang dalam tubuh ummat. Kebanyakan hanya melihat dunia saja, seolah dunia adalah segalanya. Mereka tidak atau sedikit mengingat akhirat. Mereka tidak sadar bahwa semua perbuatan mereka di dunia akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah di padang Mahsyar.
Kedua, perkokoh ketahanan keluarga. Karena ini benteng yang pertama dan terakhir. Yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran para orang tua lebih dulu untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya baik dalam urusan agama dan urusan lainnya. Agama harus menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga. Anak-anak yang lahir dari keluarga yang kokoh agamanya, ketika mereka berprestasi secara duniawi, insyaallah akan dibingkai dengan akhlaq yang baik.
Ketiga, hendaknya ada di kalangan pemimpin ummat Islam yang terus menerus membangun dan menguatkan ukhuwah Islamiyah. Mendahulukan persaudaraan sesama Ummat Islam ketimbang berdebat hal-hal yang furu’ (cabang). Keempat, bagi para da’i/ muballigh perluas tema da’wah. Tema pokok agama (‘ushuluddin) terus diperkuat, namun tema kontemporer semisal membangun lingkungan sehat, gaya hidup sehat, keluarga sakinah, parenting, menghadapi arus media digital, sampai kepada memilih pemimpin yang jujur dan kredibel (urusan politik-kepekaan pada kebijakan) serta persoalan dunia Islam harus terus menerus disampaikan pada ummat.
Kelima, Masalah pendidikan harus menjadi fokus terhadap generasi muda yang akan memimpin bangsa ke depan. Mereka harus disiapkan bukan hanya pinter secara akademik, tapi juga cerdas melihat persoalan bangsa. Sehingga ilmu yang mereka raih memiliki manfaat untuk kemajuan bangsa. Pendidikan adalah poros perubahan. Jika generasi mudanya terdidik dan peduli, insya Allah masalah lain akan dicarikan solusi bersama. Masalah ekonomi, kesehatan, keamanan, hukum, dan sosial insya Allah dengan sendirinya akan terselesaikan karena bangsa dipimpin oleh orang-orang yang terdidik dan berakhlaq mulia.
Terakhir, apa nasehat Ibu untuk generasi muda Islam?
Nasihat untuk generasi muda Islam, ‘mumpung’ lagi muda,sehat,banyak peluang yang dapat diraih, maka jangan sia-siakan waktu untuk hal yang tidak ada gunanya. Jadikan setiap detik berarti yang bermanfaat di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Buatlah ‘map of life’, rancang target konkret dan jangka panjang. Jadikan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai panduan. Perdalam ilmu agama, baru kemudian ilmu yang lainnya. Pelajari kisah orang shaleh di masa lalu yang banyak memberikan inspirasi, berbakti pada orang tua (birrul walidain) akan membawa keberkahan hidup, bergaul dengan orang-orang yang shaleh sebagai pengingat, dan yang lebih penting adalah raih prestasi setinggi-tingginya karena Allah berkehendak demikian.
Pengalaman telah mengajarkan tidak ada prestasi tinggi yang dicapai kecuali dengan kerja keras, kesungguhan, ketekunan, ketelitian,dan selalu belajar dari kesalahan untuk bangkit dan perbaiki. Dengan tidak meninggalkan kecerdasan intelegensia, teruslah asah kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi karena keberhasilan hidup ternyata lebih banyak dikendalikan oleh dua kecerdasan ini. Semoga Allah mengangkat kembali ummat ini dari kehancuran dan meninggikannya di antara ummat yang lain. Aamiin. Wallahu a’lam bishhsowwab

Entri Populer